..sambungan terakhir
setelah menuggu selama setengah jam, bis yang belakangan ku ketahui bernama Mandala itupun meluncur dari Solo menuju terminal Giwangan Jogja. Sebagai permulaan cerita, dari sini aku ditemenin sama orang yang ngakunya bernama Iim dari Udanawu, deket kota Blitar.
Si Iim ini, ia suka sekali ngobrolin soal hempon, handphone deh.. dia cerita soal henpon-henpon nyang udah pernah dipakenya, en ternyata ujung-ujungnya dia malah pinjem hempon ku buat sms temennya yang di Purwokerto, minta dijemput.
Aku juga ditawarin telor rebus sama dia, tapi berhubung perutku agi gak enak (gara-gara insinyur yang bikin jalan raya Solo-Jogja se trampil yang buat jalan raya Sukowati sehingga banyak grunjel-grunjel di jalan), aku tolak dengan sopan. Lagian dia juga buang kulitnya sembarangan sih, bikin kesel aja.
Dalam perjalanan yang memakan waktu sekitar sejam seperempat, aku mikir-mikir, ni seandainya bus kebanggaan dosenku si TJ (Trans Jogja) itu udah ga ada yang kearah ring road utara, mampus aku. Terpaksa aku nanti minta jemput abangku di janti. Tapi kalo masih ada, ya , berarti naeik TJ aja ke halte Panggung n jalan dikit ke rmah. Moga-moga aja masih sempet nonton serial Heroes yangbaru-baru ini aku ikutin (ehm, ketauan noraknya).
Ternyata Allah mengijinkan, n aku sampe di Janti jam setengah delapan. Turun dari bus Mandala, lalu ngambil tas dari bagasi (sial, waktu kuraba agak basah. Ni kalo ga kena ujan pasti kena mesin AC). Nyeberang, nyamperin Halte TJ yang di utara jalan itu. ku tanya2 ma petugas nya,
"masih ada gak yang ke arah ring road?".
Si petugas tanya "Masnya mau kemana",
aku jawab "ke halte yang sebelum Kopma UGM".
"oh, Halte Panggung. Iya mas nanti jalur 3 A". Alhamdulillah, Yes, yes...
Setelah menunggu selama 15 menit, melihat dua bus TJ lupa jalur berapa, yang menurunkan dua penumpang cewe agak cakep, akhirnya dateng juga TJ jalur 3 A yang kunanti.
Aku masuk bus, duduk di bangku yang ada persis di depan pintu keluar, sehingga wajahku yang eksotis, beserta gaya dan penampilanku yang memukau pastilah terlihat dari luar. Terang aj, seorang PEMBALAP alias pemuda berbadan gelap, memakai celana abu-abu SMA, dengan jaket item duduk di kursi belakang sopir, menghadap kearah pintu masuk TJ. Di bawah ada tas mudik beroda, berwarna biru, disampingnya ada kotak kardus coklat bertuliskan Kabupaten Blitar beserta lambangnya.
Singkat tjerita, aku kembali menjalankan hobiku di saat bepergian dengan bus: ngeliatin pemandangan di luar bus. Aku sekarang jadi tahu kalo jalur 3A tu nantinya ngelewatin Carefour, terus lurus ketimur sampe ke halte bandara Adi Sucipto(ehm, ini yang paling dibanggain ma dosenku, yang katanya "integrasi tiga moda"), terus si TJ itu puterbalik ke barat lagi, tapi kemudian belok ke utara menuju Ring Road Utara. Whew, jadi artinya, sendinya ku mudik lagi n dlam perjlanan ke jogja, aku turun di halte bandara aja y, biar ga usah muter balik..
Jam menunjukkan pukul 20.10 an, aku masih di dalem TJ,ngeliatin suasana Jogja malem ari. di dlem bus aku denger bhwa ternyata ad semacam radio jaringan sopir TJ yang mengharuskan para sopir itu memberi laporn tentang suasana kerjanya, begitu namanya disebut oleh mbak2 bersuara cakep yng kayaknya semacam penyiar radio itu. ada sopir yng iseng, di akhir laporan dia bilang,"selmat malem, mbak yng cantik..". eh, tk disangka ad suara lain yang keluar dari itu radio, suara lakilaki, berkata "SERIUS, SERIUS..". Hahaaahaa, tawaku dlam hati. bis juga tu sopirr bus bercanda wktu kerja.. bus terus melaju, lewat UPN, liat Luna Maya pake baju kemben n rok pendek di perempatan Jl Affandi alias Gejayan, liat bakul susu kambing, n liat halte TJ Panggung akhirnya. Aku keluar dr bus, turun dari Halte, n akhirnya..
..jalan kaki sekitar 10 menitan. Dari halte panggung tas biru berisi pakaian itu aku seret. Tahu g kenapa aku seret? Soalnya kalo dijinjing berat. Pake tangan kiri, sementara kardus berisi oleh2 dari Bitu aku jinjing pake tangan kanan. Tahu g kenapa aku jinjing? Soalnya kalo diseret susah. Aku jalan kaki lewat jalan kampung yang sepi, dengan beberapa pemuda nongkrong disatu sisi jalan deket toko, lalu aku belok kiri n lewat depan rumah pak Bambang yang menteri pedidikan itu, lalu jalan kaki lagi sekitar 150 meter, dan sampailah aku di depan kosan tercinta..
Selasa, 14 Oktober 2008
cattn arus balik 3: S R A G E N C A K E P bagian 2
..sambuangannya lagi
..foya-foya karena bikinnya gampang kurasa. Lha wong tinggal lurus gitu, ga perlu banyak timbunan ato galian, n kalo kekerasan tanahnya juga seragam, pasti tmbh gampang deh bikinnya.
Ternyata udah jam 17.50, masih di Sragen. Hujan deras masih mengguyur. Rasanya asyik banget, ngeliatin hujan dari dalem bus yang lagi berjalan, ngeliatin orang-orang berteduh di pinggir jalan sambil ngobrol ama temen berteduhnya, duduk-duduk, berdiri-berdiri, ada yang boncengan naek motor di bawah mantel n jas ujan, bahkan ada pak tukang becak yang masih narik, topless alias telanjang dada, seakan menikmati guyuran penuh keberkahan.
Sementara aq nikmatin pemandangan ujan, orang-orang dalam bus makin ramai mengbrol. bahkan ada yang obrolannya sampai seperti ini:
"udan-udan enake sing anget-anget"
"ho-oh, contone kathok anget"
"hihihihi..",(ada yang cekikikan)
"kathok njero anget.."
"HIHIHI.."(cekikiannnya tambah parah)
"Njerone kathok yo anget.."
"Hush, ngobrole kok iso tekan masalah kathok ki lho.."si kondektur menyela.
Ato ada juga yang macem ini:
"..iyo , aku wis arep tekan Solo iki. Engko papaken yo, nggowo payung yo, iki udan angin.."
"GuOblok", ada suara laki-laki yang menimpali.
"Udan yo udan banyu, kok udan angin.."
dan tawa pun berderai..
ada pula yang semacam ini:
"pak-pak, aku mudhun kene",kata penumpang ibu2
"enak yo munggah mudhun, anget mengko",kata si bapak berpikiran rusuh..
Masih di Sragen, aku benar-benar menikmati 25 menit di kota tersebut. Smbl menikmati hujan, terdengar alunan kecruk(gitar berdawai tiga, namanya apa sih bhs indonesianya?) dari pengamen, yang kemudian menyenandungkan lagu jawa, Tombo Ati plus lagu rohani bernuansa muslim khas jawa. Judule aku lupa, tapi yang jelas ada pake "ojo eman karo bondho donya", "keretane kereta jawa, rodane papat arupo manungso,..". Suara si pengamen emang jauh dari kualifikasi American Idol, namun sangat pas membawakan lagu tersebut, ditambah kepiawaiannya memetik dawai kecruk, bukan monoton genjrengan lyknya pengmen biasa yg mengutamakn receh yang diterima tapi diselingi dan diakhiri petikan melodi yang khas layknya gitaris andal yang lbh menonjolkan rasa seni dan kemampunnya, menambah semarak suasana hati yang sedang menikmati hujan.
Selama menikmati hujan, yang paling menawan adalah sensasi saat melihat kilat dan mendengar petir menggelegar. Paling nggak ad lima kali kilat menyambar, dan terlihat sekali seolah dia membelah udara, dan retakannya menimbulkan suara petir yang dahsyat. Sekali kebayang seandainya si kilat itu tiba-tiba menyimpang dari jalurnya semula, lalu berbelok mengarah ke arah mata saya, dan...(udah,ga berani ngebayanginnya..)
Perjalanan berlanjut, hujan makin deras kayaknya. Pemandangan berubah menjadi sawah yang terbentang luas, dan kemudian saat di perbatasan Sragen, terlihat 5 gading raksasa berjajar, bagus banget, bila meninggalkan kota maka lengkungannya yang makin lama makin turun seakan membentuk jalan masuk yang tidak sempurna ke kota berikutnya. Aku penasaran apakah di sebelah kanan jalan ada yang seperti itu, simetris, namun begitu aku menolehkan kepala untuk melihatnya, gading-gading itu sudah tak terlihat lagi. Mungkin kapan-kapan aku bisa melihat pasangannya di sisi jalan yang satunya..
Sampai di terminal Solo, tak ada yang berarti, waktu berjalan seakan tiap detik sama lamanya dengan seperenampuluh menit, dan pada jam 17.50, bus itu berhenti di terminal Solo. Si Kondektur bilang bahwa busnya akan berangkat lagi jam 6.20, berarti 30 menit lagi. Namun karena hujan, keinginan untuk berjalan-jalan di terminal Solo sekadar melemaskan kaki dan mengisi perut jadi sirna. Akhirnya kuputuskan untuk beli nasi bungkus plus tahu goreng seribuan sekadar mengganjal perut..
bersambung..
..foya-foya karena bikinnya gampang kurasa. Lha wong tinggal lurus gitu, ga perlu banyak timbunan ato galian, n kalo kekerasan tanahnya juga seragam, pasti tmbh gampang deh bikinnya.
Ternyata udah jam 17.50, masih di Sragen. Hujan deras masih mengguyur. Rasanya asyik banget, ngeliatin hujan dari dalem bus yang lagi berjalan, ngeliatin orang-orang berteduh di pinggir jalan sambil ngobrol ama temen berteduhnya, duduk-duduk, berdiri-berdiri, ada yang boncengan naek motor di bawah mantel n jas ujan, bahkan ada pak tukang becak yang masih narik, topless alias telanjang dada, seakan menikmati guyuran penuh keberkahan.
Sementara aq nikmatin pemandangan ujan, orang-orang dalam bus makin ramai mengbrol. bahkan ada yang obrolannya sampai seperti ini:
"udan-udan enake sing anget-anget"
"ho-oh, contone kathok anget"
"hihihihi..",(ada yang cekikikan)
"kathok njero anget.."
"HIHIHI.."(cekikiannnya tambah parah)
"Njerone kathok yo anget.."
"Hush, ngobrole kok iso tekan masalah kathok ki lho.."si kondektur menyela.
Ato ada juga yang macem ini:
"..iyo , aku wis arep tekan Solo iki. Engko papaken yo, nggowo payung yo, iki udan angin.."
"GuOblok", ada suara laki-laki yang menimpali.
"Udan yo udan banyu, kok udan angin.."
dan tawa pun berderai..
ada pula yang semacam ini:
"pak-pak, aku mudhun kene",kata penumpang ibu2
"enak yo munggah mudhun, anget mengko",kata si bapak berpikiran rusuh..
Masih di Sragen, aku benar-benar menikmati 25 menit di kota tersebut. Smbl menikmati hujan, terdengar alunan kecruk(gitar berdawai tiga, namanya apa sih bhs indonesianya?) dari pengamen, yang kemudian menyenandungkan lagu jawa, Tombo Ati plus lagu rohani bernuansa muslim khas jawa. Judule aku lupa, tapi yang jelas ada pake "ojo eman karo bondho donya", "keretane kereta jawa, rodane papat arupo manungso,..". Suara si pengamen emang jauh dari kualifikasi American Idol, namun sangat pas membawakan lagu tersebut, ditambah kepiawaiannya memetik dawai kecruk, bukan monoton genjrengan lyknya pengmen biasa yg mengutamakn receh yang diterima tapi diselingi dan diakhiri petikan melodi yang khas layknya gitaris andal yang lbh menonjolkan rasa seni dan kemampunnya, menambah semarak suasana hati yang sedang menikmati hujan.
Selama menikmati hujan, yang paling menawan adalah sensasi saat melihat kilat dan mendengar petir menggelegar. Paling nggak ad lima kali kilat menyambar, dan terlihat sekali seolah dia membelah udara, dan retakannya menimbulkan suara petir yang dahsyat. Sekali kebayang seandainya si kilat itu tiba-tiba menyimpang dari jalurnya semula, lalu berbelok mengarah ke arah mata saya, dan...(udah,ga berani ngebayanginnya..)
Perjalanan berlanjut, hujan makin deras kayaknya. Pemandangan berubah menjadi sawah yang terbentang luas, dan kemudian saat di perbatasan Sragen, terlihat 5 gading raksasa berjajar, bagus banget, bila meninggalkan kota maka lengkungannya yang makin lama makin turun seakan membentuk jalan masuk yang tidak sempurna ke kota berikutnya. Aku penasaran apakah di sebelah kanan jalan ada yang seperti itu, simetris, namun begitu aku menolehkan kepala untuk melihatnya, gading-gading itu sudah tak terlihat lagi. Mungkin kapan-kapan aku bisa melihat pasangannya di sisi jalan yang satunya..
Sampai di terminal Solo, tak ada yang berarti, waktu berjalan seakan tiap detik sama lamanya dengan seperenampuluh menit, dan pada jam 17.50, bus itu berhenti di terminal Solo. Si Kondektur bilang bahwa busnya akan berangkat lagi jam 6.20, berarti 30 menit lagi. Namun karena hujan, keinginan untuk berjalan-jalan di terminal Solo sekadar melemaskan kaki dan mengisi perut jadi sirna. Akhirnya kuputuskan untuk beli nasi bungkus plus tahu goreng seribuan sekadar mengganjal perut..
bersambung..
Langganan:
Postingan (Atom)
